Senin, 06 Juni 2016

Kesuksesan Tinggal Di depan Mata



 


Tepat pukul 00:00, tidak sampai delapan jam lagi waktu yang di tunggu bram selama empat tahun kini tinggal di depan mata. Bram Pangestu masih terbayang masa-masa pertama kali memasuki dunia perkuliahan. Ketika berusaha mencari biaya kuliah dan uang sehari-harinya untuk bisa bertahan hidup di kota yang sangat asing itu baginya. Kota metropolitan yang selalu riuk pikuk suara kendaraan terdengar. Memang tak dapat dipungkiri bahwa hidup di tempat orang itu memang harus bisa beradaptasi dengan apa yang lingkungan itu lakukan.
            Kini entah mengapa semua kenangan yang dulu dia rasakan sangat pedih itu, hari ini akan berakhir dengan sendirinya. Bram sekarang hanya tinggal menunggu detik-detik yang membuat dirinnya dan keluarganya dikampung sangat bahagia. Bagaimana tidak, mahasiswa yang dulunya dipandang tetangganya itu hanya seorang anak tukang deres itu, kini telah berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat cumlaude dan berhasil memperolehnya dengan hanya waktu 3,5 tahun di salah satu universitas terbesar di sumatera itu.
            Rintik hujan mulai membasahi kota metropolitan yang panas itu. Kini suara kendaraan yang tadi masih terdengar hingga ke pelosok ruangan, kini bagai angin berlalu. Hujan yang mengalir deras menambah sejuknya udara ruangan yang beberapa hari ini di landa kemarau yang berkepanjangan. Kota Medan, dengan sejuta keunikan dan misterinya kini hanya akan menjadi kenagan bagi bram. Kota ini akan menjadi bukti dari usaha empat tahun yang kini tidak sia-sia baginya. Tinggal menghitung jam dan semuanya akan selesai dan dia akan mencari jalan hidupnya yang baru di tempat lain seperti impian nya.
            Entah mengapa pandangan bram seakan teringat kembali kepada sosok yang telah membuatnya seperti sekarang. Yaitu almarhum ayahnya. Kini ayahnya sudah senang di dunia lain dan mereka tak bisa berjumpa untuk bercerita dan untuk mengucapkan bahwa sekarang anaknya itu telah selesai kuiah seperti yang di cita-citakan ayah. Air mata mulai membasahi pipi bram ketika mengingat usaha ayahnya yang membuat semua tetangganya ikut terdiam melihat keluarga kecil itu. air mata kesedihan dan kebahagiaan buat bram pada malam itu. janji ayahnya masih terbesit di ingatan bram. “kamu harus bisa menjaga keluarga kita dan menjadi tulang punggung bagi keluarga kita ini kelak bram dan jangan mengecewakan ayah”. Sambil menghembuskan nafas terakhir ayah pergi dan hanya terdengar suara tangisan kala itu.
            Seakan terbawa suasana dinginya hujan malam itu bram mulai terlelap di kasur biru berlambangkan tim sepakbola inggris itu. hujan deras seakan menghantarkan bram dengan sejuta mimpi yang kini tinggal bram nyatakan. Mimpi yang selalu dia tuliskan di buku harian yang kusam itu dan berharap dia bisa mengubah dirinnya dan bangsanya. Ya mimpi besar harus diawali dari perbuatan pula, berbuat tak harus yang besar, tapi mulailah dengan hal kecil. Itulah yang selalu ayahnya ingatkan ketika bram masih kecil.
            Pagi itu, bram masih saja menunggu kedatangan ibu dan keluarga kecilnya. Kebahagian ini seharusnya dirasakan juga orang tuanya. Ibu nya kini sudah menjadi tulang punggung masih belum datang dari kampung untuk menemaninya. Dalam benaknya apa ibu masih di jalan?. Ah sudahlah mungkin sebentar lagi ibu pasti akan datang.

Bunga Kecil Kini Mekar



 Hasil gambar untuk bunga mekar




 Kebahagian inson dan harta kini lengkap sudah, anak kedua yang mereka tunggu-tunggu kini sudah lahir. Pagi itu seakan terasa cepat berlalu dengan bertambahnya anggota keluarga mereka.
“Anaknya laki-laki pak, bayinya sehat tanpa ada kekurangan apapun. Bapak bisa langsung melihatnya di ruangan ujung.” Ucap bidan berambut panjang itu kepada inson
“oh baik bu.” Jawab inson dengan penuh kebahagiaan
Dengan bergegas menuju ujung ruangan itu, inson hanya bisa tersenyum dengan kelahiran anak keduannya itu. kini sudah lengkap sudah, sepasang anak mereka perempuan dan laki-laki. Kini dirinya sangat bangga menjadi orang tua bagi anak-anaknya yang sekarang berada dipangkuannya itu. anak pertama kini sudah berumur enam tahun dan sebentar lagi akan memasuki bangku sekolah dasar dan anak kedua laki-laki ini lah anak yang ditunggu inson dan harta untuk melengkapi keluarga kecilnya.
            Inson sudah memikirkan nama apa yang akan diberikan kepada bayi kecilnya itu. banyak nama dipikirannya tapi satu yang membuat dirinnya yakin bahwa nama bayi kecilnya adalah“Bram Pangestu”. Nama inilah yang akan membawa derajat dan martabat bagi keluarga itu kelak. Bram kecil akan menjadi anak yang sukses dan bisa menjadi bintang yang terang dalam kegelapan.
            Memang biaya persalinan di klinik itu bisa dikatakan sangatlah murah. Karena apabila mereka bersalin ke rumah sakit biaya yang dikeluarkan sangatlah mahal dan akomodasi yang digunakan juga sangat terbatas. Pemilik kendaraan mobil di desa itu hanyalah satu dan bahkan tak jarang warga segan untuk menyuruh membantu keluarga yang sedang membutuhkan pertolongan.
            Suara tangisan bayi kecil itu sangatlah merdu bagi keluarga kecil itu. kini anggota keluarga mereka sudah bertambah satu bahkan Tetangga di desa itu keluar masuk rumah kecil itu. seakan ingin melihat bayi yang kini sudah berumur sehari itu, mereka ikut bahagia dengan suasana di rumah itu.

Minggu, 05 Juni 2016

Merajut Kembali



Hasil gambar untuk merajut kembali


Sore itu adalah waktu yang sudah di rencanakan warga untuk melakukan gotong royong saluran irigasi sawah. Memang hujan tadi malam tidak hanya meberikan kerugian bagi warga, namun juga memberikan keuntungan. Kini warga sudah bisa memulai untuk bertani lagi dan menanam padi untuk memenuhi kebuthan sehari-hari.
            “Bapak-bapak sekalian,  kita mulai saja dari hulu untuk membersihkan dan memperbaiki parit. Apabila ada parit yang jebol dan rusak, kita sama-sama meperbaikinya”. Seru Bapak RT yang memang setiap ada kegiatan selalu menjadi komandan dalam kegitan seperti itu.
            “Baik pak!!, seru seluruh bapak-bapak yang hadir pada kegiatan gotong royong sore itu. memang pada kebiasaan masyarakat setempat, kegiatan gotong royong paling banyak dilakukan para kaum lelaki atau bapak-bapak. Dan sangat jarang sekali ibu-ibu ikut dalam mebersihkan irigasi. Biasanya ibu-ibu menyaipkan sarapan kepada bapak-bapak yang melakukan gotong royong di kampung itu.
            Kegiatan gotong royong adalah kebiasaan setempat yamg selalu dijaga tradisinya hingga hari ini. Selain mempercepat kerja, gotong royong dapat memberikan hubungan dan komunikasi yang baik antara sesama tetangga di kampung. Dan tak jarang biasanya dikampung, tetangga kita sendiri sudah kita anggap sebagai keluarga kandung kita. Namun, tak jarang juga banyak dari petani lain yang tak ikut kegiatan gotong royong dikarenakan kesibukan masing-masing individu. Tapi bagi masyarakat di desa itu, berapapun yang ikut kegiatan, petani tetap membersihkan saluran irigasi sawah harus tetap berjalan.
            Biasanya bapak-bapak akan menyusuri saluran parit dari hulu menuju hilir, agar ketika ada parit yang rusak dan banyak sampahnya dapat diperbaiki dan dibersihkan. Memang sudah hampir sekitar sebulan lebih petani di kampung mereka tidak bersawah, dikarenakan pasokan air ke sawah akibat cuaca kemarau sangatlah sedikit. Dan banyak dari sawah yang sudah retak dan kering akibat hujan tak kurung datang. Bahkan padi yang di simpan di dalam lumbung pun sudah mulai habis.
            Sore itu semua petani sangatlah sibuk dengan kerjannya masing-masing. Sama dengan inson yang sedari tadi sedang memperbaiki parit sebelah ujung yang sedang jebol akibat derasnya hujan dan air yang mengalir tadi malam. Ada sekitar 20 an petani yang membawa cangkul dan arit untuk membersihkan saluran parit sawah mereka. Kini tak terasa bagi mereka, tak samapai sebulan lagi mereka sudah bisa menanam padi di lahan mereka.
            “serpan pak!. Sahut seorang ibu dengan beberapa ibu lainnya yang sedang membawa makanan untuk para pekerja sore itu. biasanya makanan yang dibawa adalah makanan ringan seperti kue-kue dan segelas teh manis hangat. “Memang ini lah nikmatnya bila kita melakukan gotong royong bersama beberapa petani lainnya”.  Pekerjaan semakin mudah dan sekarang saluran irigasi kita sudah bersih dan bisa mengalir dengan baik.” Sahut seorang bapak RT kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir pada saat itu.
            Kini pekerjaan sudah selesai dan para petani sudah bisa mengairi sawahnya dengan baik. Kebahagiaan petani kini sudah dimulai dan akan mereka tuai hasilnya dengan bulir-bulir padi ketika panen nanti